Kebun Tetangga

Feedjit

Select Menu
  • Home
  • Blogging
    • Tutorial Blogspot
    • CSS
    • jQuery
    • Widget
  • Tools
    • Font Awesome
    • HTML Editor
    • HTML Encrypter
    • Code Color
    • Responsive Cek
  • Sitemap
  • About Me
  • Link Exchange
Home » Uncategories » KISAH SAHABAT l SEDEKAH DI SAAT KRISIS

Senin, 09 Juli 2012

KISAH SAHABAT l SEDEKAH DI SAAT KRISIS

agungichwanto
1 Comment
Senin, 09 Juli 2012

Kisah Sahabat - Sedekah di saat kondisi sendiri krisis / kekurangan.
 
Alkisah Ahmad bin Fulan hidup dengan istri dan anaknya yang masih kecil. Kesusahan menderanya terus-menerus. Tak ada pekerjaan yang dilakukannya. Suatu malam, setelah seharian tak secuil makanan masuk kedalam perutnya, hatinya gelisah dan tak dapat tidur. Hatinya perih seperti perutnya yang keroncongan
Seperti prajurit yang kalah perang, ia lesu, lemah-lunglai, dan tak ada harapan. Anaknya menangis seharian, karena tak ada air susu dari istrinya yang lapar. Sungguh kefakiran ini membuatnya sangat menderita. Timbul pemikiran darinya untuk menjual rumah yang ditempatinya
Esok harinya, usai shalat shubuh berjamaah dan berdoa, ia menemui sahabatnya Abdullah as-Sayyad. “Wahai Abdullah! Bisakah kau pinjamkan aku beberapa dirham untuk keperluan hari ini. Aku bermaskud menjual rumahku. Nanti setelah laku akan kuganti,” kata Ahmad
“Wahai Ahmad. . . ambillah bungkusan ini untuk keluargamu dan pulanglah! Nanti aku akan menyusul kerumahmu membawakan semua kebutuhanmu itu,” jawab Abdullah cepat. Maka Ahmad pun pulang kerumah sambil terus merenung untuk menjual rumahnya. Sungguh sakit kalau harus menjual rumah satu-satunya, sekadar untuk makan. “Setelah itu, saya akan tinggal dimana,” renung Ahmad.
Ahmad segera memantapkan langkahnya. Kini ia membawa bungkusan makanan untuk keluarganya. Tentu istrinya akan gembira dan anaknya akan tertawa lucu setelah memperoleh air susu. “ Terasa nikmat roti yang dibungkus ini tentunya. Sahabat Abdullah memang sangat dermawan, sahabat sejatiku,” desah Ahmad.
Belum sampai setengah perjalanan, tiba-tiba seorang wanita dengan bayi dalam gendongan menatap iba. “Tuan, berilah kami makanan. Sudah beberapa hari ini kami belum makan. Anak ini anak yatim yang kelaparan, tolonglah. Semoga Allah swt. Merahmati tuan,” ratap ibu itu.
Iba rasa hati Ahmad. Ditatapnya bayi yang digendong wanita itu. Tampak wajah yang layu, pucat kelaparan. Wajah yang mengharap belas kasihan. Sungguh melas, tak sanggup Ahmad memandangnya lama-lama. Dibandingkan keluargaku, mungkin ibu dan anak ini lebih membutuhkan. “Biarlah aku akan mencari makanan lain untuk keluargaku,” Ahmad membatin. “Ini ambillah bu. . . aku tak punya yang lain, semoga dapat meringankan bebanmu. Kalau saja aku punya yang lain mungkin aku akan membantumu lebih banyak,” kata Ahmad sambil menyerahkan bungkusan yang sama sekali belum disentuhnya
Dua tetes air mata jatuh dari mata sang ibu, “Terima kasih. . .terima kasih tuan. Sungguh tuan telah menolong kami dan semoga Allah membalas budi baik tuan dengan balasan yang besar,” si ibu berterima kasih dan menunduk hormat. Maka Ahmad pun meneruskan perjalanan.
Ia beristirahat bersandar di batang pohon sambil merenungi nasibnya. Namun, ia kembali ingat bahwa sahabatnya Abdullah telah berjanji akan datang membawakan keperluannya. Dan Abdullah tak pernah ingkar janji sekalipun. Maka bergegas ia pulang dengan perasaan harap-harap cemas. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sahabat baiknya Abdullah.
“Wahai Ahmad kemana saja engkau,” tegur Abdullah tersengal-sengal. “Aku mencarimu kesan-kemari. Aku datang kerumahmu membawakan keperluanmu yang aku janjikan. Namun, ditengah perjalanan aku bertemu dengan saudagar dengan beberapa onta bermuatan penuh. Dia ingin bertemu ayahmu. Dia bilang ayahmu pernah memberi pinjaman 30 tahun yang lalu. Setelah jatuh bangun berdagang, sekarang ia telah menjadi saudagar besar di Bashrah. Kini ia akan mengembalikan uang pinjamannya, keuntungan serta hadiah-hadiah,” jelas Abdullah. “Sekarang segera pulanglah Ahmad! Harta yang banyak menunggumu. Tak perlu kau jual rumah lagi,” kata Abdullah.

Kaget bukan kepalang Ahmad mendengar perkataan sahabatnya Abdullah. Sungguh ia tak percaya dengan perkataannya itu.
“Benarkah Abdulah, benarkah?” tanya Ahmad ragu-ragu. Maka, ia berlari seperti terbang, pulang kerumahnya. Sejak itulah Ahmad menjadi orang kaya raya di kotanya…
Ahmad gemar berbuat kebajikan, apalagi kepada sahabatnya Abdullah. Pada suatu malam ia bermimpi. Sepertinya saat itu amalannya dihisab oleh para malaikat. Maka pertama-tama, dosa dan kesalahannya ditimbang. Wajahnya pucat. Berapa berat dosa yang dimilikinya. “Apakah amal kebaikan yang dilakukan dapat melebihi dosa-dosa itu?” Ahmad membatin.
Perlahan-lahan amal kebaikannya ditimbang. Pahala berderma dengan lima ribu dirham hanya ringan-ringan saja. Kata malaikat, karena harus dipotong dengan riya’ dan kesombongan yang menyertainya.. Demikian seterusnya. Ternyata seluruh amalannya tetap tak bisa mengimbangi beratnya dosa yang ia lakukan. Ahmad menangis…

Para malaikat bertanya, “Masih adakah amal yang belum ditimbang?” “Masih ada,” kata malaikat yang lain. “Masih ada, yakni dua amalan baik lagi.”
Ternyata salah satunya adalah roti yang diberikannya kepada anak yatim dan ibunya. Makin pucatlah wajah Ahmad. “Mana mungkin amalan itu dapat menyeimbangkan dosa-dosanya yang berat,” keluhnya. Malaikat pun sibuk menimbang roti itu. Namun, ketika ditimbang, ternyata timbangan langsung terangkat. Betapa beratnya bobot amalan itu. Kini timbangan ahmad tetap seimbang. Wajahnya sedikti tenang. Ia gembira, sungguh diluar dugaannya. Namun amalan apalagi yang tersisa? Karena ini masih seimbang,” katanya dalam hati.
Maka malaikat pun mendatangkan dua tetes air mata syukur dan terharu ibu anak yatim atas pertolongan Ahmad. Ahmad tak menyangka kalau tetesan air mata ibu anak yatim dinilai dengan pahala untuknya. Ia bersyukur. Para malaikat pun menimbang tetes air mata. Namun, tiba-tiba dua tetes air mata itu berubah menjadi air bah bergelombang dan meluas bak lautan. Lalu dari dalamnya muncul ikan besar. Kemudian malaikat menangkap dan menimbang ikan itu yang disetarakan dengan amalan baik Ahmad.
Ketika ikan menyentuh timbangan, maka seperti bobot yang sangat berat, timbangan pun segera condong kearah kebaikan. “Dia selamat, dia selamat,” terdengar teriakan malaikat. Gembiralah hati Ahmad.
“Sekiranya aku mementingkan diri dan keluarga sendiri, maka tak adalah berat roti dan ikan itu,” Ahmad termenung gembira. Anak yatim dan ibunya itu yang telah menyelamatkan dirinya. Pada saat itu Ahmad terbangun dari mimpi…

semoga bermanfaat sebagai motivasi kita untuk bersedekah.

http://www.sedekah.net/artikel/186-kesaksian-dua-tetes-air-mata.html
Suka Artikel? Bagikan: Facebook Twitter Google+

1 Comments

avatar
Balas
teringin menang delete 6 Juni 2017 pukul 17.08

posting yg sangat mengharukan, makasih buat admin.

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Postingan Populer

  • KISAH NYATA l KOTORAN KELUAR DARI MULUT JENAZAH
    Asslkum, kali ini saya berbagi kisah nyata yang diceritakan teman kami tentang Kotoran manusia yang keluar lewat mulut seorang jenazah manta...
  • KISAH SAHABAT l SEDEKAH DI SAAT KRISIS
    Kisah Sahabat - Sedekah di saat kondisi sendiri krisis / kekurangan.   Alkisah Ahmad bin Fulan h...
  • KISAH SEDEKAH l SEDEKAH SAAT UANG MENIPIS
    KISAH SEDEKAH - SEDEKAH SAAT UANG MENIPIS Kisah ini menceritakan tentang sedekah dua lembar uang lima ribuan ...
  • KISAH SEDEKAH l SEDEKAH DI BULAN RAMADHAN
    Ada banyak kisah keajaiban sedekah yang bisa terjadi pada diri seseorang. Setiap orang punya pengalaman masing-masing atas sedekah yang t...
  • MENYEDEKAHKAN PERUSAHAAN DIGANTI 2 PERUSAHAAN
    Asslkum, kali ini saya berbagi kisah tentang orang yang menyedekahkan hartanya/ perusahaannya, yang oleh Allah diganti berlipat lipat. In...
  • Tauziah Ust Yusuf Mansyur
    Ass. Skdr sharing. 1 saat sy mndapati haafid&kun maen game naruto. Buat sy, ini mslh. Aplg dikasih taunya sama tamu. Sy mksh banget da...
  • KISAH NYATA - KEHEBATAN SHOLAT TAHAJJUD
    Sholawat dan Salam kepada Nabi SAW yang telah menuntun kita di jalan-Nya, berikut ini saya bagikan pengalaman teman kami tentang Kehebatan ...
  • Wellcome to My Blog
    Assalamu'alaikum Wr. Wb. Netter yang dimuliakan Allah, selamat datang di blog saya yang baru, blog ini sengaja saya buat untuk menget...
  • KISAH SEDEKAH l SEDEKAHNYA ANAK TK
    Kali ini saya mencoba berbagi cerita tentang Keajaiban Sedekah yang dilakukan anak TK, yang berdampak pada kesela...
  • KISAH SEDEKAH l BALASAN MENGUTAMAKAN KEBUTUHAN ORANG TUA
    Asslkum, kali ini saya mengetengahkan kisah nyata keluarga guru yang lebih mengutamakan orang tua dari pada dirinya sendiri. SEBAGAI seor...
Copyright 2013 Kebun Tetangga - All Rights Reserved
Template by Dian Anarchyta - Powered Blogger